<mets:mets OBJID="eprint_10879" LABEL="Eprints Item" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/METS/ http://www.loc.gov/standards/mets/mets.xsd http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mets="http://www.loc.gov/METS/" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mets:metsHdr CREATEDATE="2026-08-13T00:52:55Z"><mets:agent ROLE="CUSTODIAN" TYPE="ORGANIZATION"><mets:name>Repository Universitas Pakuan</mets:name></mets:agent></mets:metsHdr><mets:dmdSec ID="DMD_eprint_10879_mods"><mets:mdWrap MDTYPE="MODS"><mets:xmlData><mods:titleInfo><mods:title>Analisis Legal Standing Kepala Kantor Urusan Agama Sebagai Pemohon Dalam Melakukan Pembatalan Perkawinan (Studi Kasus Putusan Nomor 72/PDT.G/2022/PA.Sor)</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Daffa</mods:namePart><mods:namePart type="family">Arkhan Firmansyah</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Farahdinny</mods:namePart><mods:namePart type="family">Siswajanthy</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Abid</mods:namePart><mods:namePart type="family">Abid</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Di dalam sistem hukum Indonesia, perkawinan diatur oleh serangkaian undang-undang dan peraturan yang menetapkan tata cara, persyaratan, serta hak dan kewajiban yang terkait dengan ikatan pernikahan. Fenomena perkawinan poliandri, bahwa istri memiliki suami lebih dari satu yang hal ini dilarang dan bertentangan dengan kodrat wanita sehingga perkawinan tesebut perlu untuk dibatalkan. Perkara Nomor 72/Pdt.G/2022/PA.Sor bahwa Kepala Kantor KUA berperan sebagai pemohon, mengajukan permohonan pembatalan perkawinan karena merasa tertipu atas pemalsuan identitas status perkawinan pihak wanita. Pembatalan perkawinan diajukan oleh Kepala KUA, yang mana sebelumnya secara administrasi ikut terlibat dalam proses perkawinan tersebut. Adanya pokok permasalahan pada penelitian ini, yaitu: 1) Kedudukan Legal Standing seorang Kepala KUA dalam melakukan pembatalan perkawinan sebagai pemohon 2) Pertimbangan hakim menilai Legal Standing Kepala KUA sebagai pemohon dalam melakukan pembatalan perkawinan sebagai pemohon dalam Putusan Pengadilan Agama Soreang Nomor 72/Pdt.G/2022/PA.Sor. Pada penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa 1) Perkara No. 72/Pdt.G/2022/PA.Sor, status Kepala KUA sebagai pemohon mengajukan pembatalan perkawinan karena merasa dibohongi dan dirugikan atas pemalsuan identitas status perkawinan oleh Temohon. Kepala KUA memiliki legal standing untuk mengajukan permohonan pembatalan perkawinan, karena diberikan kewenangan oleh hukum sesuai Pasal 23 Undang-Undang Perkawinan. Kepala KUA dapat mengajukan pembatalan perkawinan jika terdapat kecacatan dalam perkawinan, seperti pemalsuan identitas oleh Termohon. 2) Dalam pertimbangan hakim, Pemohon memiliki kewenangan atau legitima standi judicio untuk mengajukan pembatalan perkawinan para Temohon. Menurut Majelis Hakim, tuntutan pembatalan perkawinan tersebut relevan dan telah sesuai dengan fakta- fakta yang ada, status pemohon selaku Kepala KUA mempunyai hak dan kepentingan untuk melakukan pengawasan pencatatan perkawinan di wilayah hukum Pemohon bertugas. Maka dari pada itu, meminimalisir kejadian serupa pada masa mendatang perlunya kepastian hukum perkawinan poliandri diatur secara tegas dalam Undang-Undang, dan kepada pihak berwenang sekiranya dalam melaksanakan perkawinan sangat diperlukan pengecekan identitas dari calon mempelai agar terhindar kecurangan atau ketidakjujuran dari masyarakat.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">KUA (Kantor Urusan Agama)</mods:classification><mods:classification authority="lcc">Legal Standing/Kedudukan Hukum</mods:classification><mods:classification authority="lcc">Pembatalan Perkawinan/Pernikahan</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2025</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas Pakuan;KODEPRODI74201#ILMU HUKUM</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mets:xmlData></mets:mdWrap></mets:dmdSec><mets:amdSec ID="TMD_eprint_10879"><mets:rightsMD ID="rights_eprint_10879_mods"><mets:mdWrap MDTYPE="MODS"><mets:xmlData><mods:useAndReproduction>
<p xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml"><strong>For work being deposited by its own author:</strong> 
In self-archiving this collection of files and associated bibliographic 
metadata, I grant Repository Universitas Pakuan the right to store 
them and to make them permanently available publicly for free on-line. 
I declare that this material is my own intellectual property and I 
understand that Repository Universitas Pakuan does not assume any 
responsibility if there is any breach of copyright in distributing these 
files or metadata. (All authors are urged to prominently assert their 
copyright on the title page of their work.)</p>

<p xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml"><strong>For work being deposited by someone other than its 
author:</strong> I hereby declare that the collection of files and 
associated bibliographic metadata that I am archiving at 
Repository Universitas Pakuan) is in the public domain. If this is 
not the case, I accept full responsibility for any breach of copyright 
that distributing these files or metadata may entail.</p>

<p xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml">Clicking on the deposit button indicates your agreement to these 
terms.</p>
    </mods:useAndReproduction></mets:xmlData></mets:mdWrap></mets:rightsMD></mets:amdSec><mets:fileSec></mets:fileSec><mets:structMap><mets:div DMDID="DMD_eprint_10879_mods" ADMID="TMD_eprint_10879"></mets:div></mets:structMap></mets:mets>